Ilmu Budaya Dasar: Kebudayaan Bekasi

Kamis, 03 Januari 2013

Assalamu'alaikum,,,
Berikut ini makalah Kebudayaan Bekasi, semoga bermanfaat y, amin..
Jangan lupa kritik saran'a:-)


MAKALAH
KEBUDAYAAN BEKASI

Dosen  :
Setia Gumilar, M.Si
Samsuddin, M.Ag

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti UTS dan UAS 
Mata Kuliah Ilmu Budaya Dasar



Disusun Oleh :
AMAR FASYNI (1210502013)
BSA/II/A

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA ARAB
FAKULTAS ADAB DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2010-2011


KATA PENGANTAR

Bismillaahirohmaniirrohim.
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah SWT. puji serta syukur kami panjatkan. Akhirnya penulis dapat  menyelesaikan tugas makalah ini tepat pada waktunya.
            Shalawat serta salam semoga tercurah limpahkan kepada junjungan alam, pemimpin anti kolusi dan nepotisme paduka agung habibana wanabiyana Muhammad SAW. yang dengan perantaraan beliau, kita, selaku  umat islam dapat mengenal dan melaksanakan ajaran agama baik berupa Al-Qur’an dan hadits, semoga kita selalu mendapatkan syafa’at di hari akhir nanti. Amin.
            Makalah ini di ajukan untuk memenuhi sebagian syarat mengikuti UTS dan UAS MK dari Bapak Setia Gumilar, M.Si dan Samsuddin, M.Ag, selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Budaya Dasar.
          Penulis menyampaikan terima kasih kepada kedua orang tua, rekan-rekan seperjuangan dan Bapak Setia Gumilar, M.Si dan Samsuddin, M.Ag, selaku dosen pengampu mata kuliah Ilmu Budaya Dasar yang telah berkenan memberikan pengarahan dan dukungannya sehigga makalah ini dapat terselesaikan.
            Kami menyadari bahwa  makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kepada para pembaca di mohon untuk saran dan kritiknya yang bersifat konstruktif demi kesempurnaan makalah kami ini serta  mengkaji ulang sumber-sumber yang telah menunjang.

Bandung,    April  2011


              Penyusun



DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .............................................................................            
DAFTAR ISI .............................................................................................            
BAB I  PENDAHULUAN .......................................................................
A.    Latar Belakang ................................................................................            
B.     Tujuan .............................................................................................            
BAB  II  PEMBAHASAN ........................................................................
A.    Pengenalan Daerah Bekasi ..............................................................
B.     Kebudayaan Bekasi ........................................................................
1.      Kesenian Daerah Bekasi ...........................................................
2.      Segi Bahasa ...............................................................................
3.      Segi Peralatan Hidup dan Teknologi.........................................
4.      Segi Organisasi Kemasyarakatan ..............................................
5.      Segi Mata Pencaharian...............................................................
BAB  III  PENUTUP
A.    Kesimpulan .....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Budaya Bekasi diibaratkan hidup segan mati tak mau. Yang harus dilakukan saat ini adalah menumbuhkan keyakinan untuk mampu bangkit. Harus punya keberanian. Dengan kata lain, tantangannya adalah harus memulai membangun jaringan komunikasi, baik dengan industri dan masyarakat. Untuk menjaga keutuhan budaya Bekasi, jika menggunakan melalui hak paten, dirasakan biayanya terlalu tinggi. Kalau bisa dengan peraturan daerah saja sudah cukup kuat untuk melindungi. Karena pemerintah daerah lain tidak bisa mengklaim lagi.
Kebudayaan Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehinga banyak pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta ) yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Langkah selanjutnya, bisa lebih dipertajam. Misalnya menggunakan hak paten untuk melindungi cagar budaya Bekasi. Langkah ini diharapkan dapat mengikis kata-kata kuota dari Provinsi Jawa Barat bahwa Kota dan Kabupaten Bekasi hanya mendapat satu kuota cagar budaya. Pemberian kuota ini sangat mengecewakan karena, membuka pintu bagi daerah lain, seperti DKI Jakarta untuk mengklaim cagar budaya Bekasi. Dewan Kesenian bercita-cita bahwa kebudayaan harus menjadi oasenya, bukan jadi obyeknya.
A.      Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah karena menjaga, memelihara dan melestarikan kebudayaan merupakan kewajiban setiap individu, maka dalam realisasinya, kami mencoba menyusun makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi yang didalamnya mengulas tentang berbagai kebudayaan berdasarkan unsur-unsur kebudayaan yang telah dipelajari.
Penyusunan makalah yang berjudul Kebudayaan Bekasi ini bertujuan agar pembaca mengetahui bahwa Kabupaten dan Kota Bekasi merupakan daerah yang kaya akan budaya serta menyadari bahwa menjaga dan melestarikan kebudayaan daerah merupakan kewajiban dari setiap orang.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Pengenalan Daerah Bekasi
Bekasi adalah wilayah yang berbatasan langsung dengan daerah Jakarta sang primadona Indonesia, yang dalam istilah adalah daerah urban. Banyak sekali masyarakat Bekasi yang bekerja di Jakarta dan juga sebaliknya. Jakarta, sebagai ibukota dengan berbagai gaya hidup dan gelembung budaya yang selalu berkembang, tentu saja menyentuh sisi-sisi Bekasi sebagai daerah urban. Makanya, Bekasi merupakan salah satu kota yang paling cepat mengalami perubahan dalam hal sosial, seperti lifestyle dan ilmu pengetahuan.
Kota Bekasi memiliki luas wilayah sekitar 210,49 km2, dengan batas wilayah Kota Bekasi adalah:
• Sebelah Utara : Kabupaten Bekasi
• Sebelah Selatan : Kabupaten Bogor dan Kota Depok
• Sebelah Barat : Provinsi DKI Jakarta
• Sebelah Timur : Kabupaten Bekasi
Letak geografis : 106o48’28’’-107o27’29’’ Bujur Timur dan 6o10’6’’- 6o30’6’’ Lintang Selatan.
Salah satu prestasi yang telah dicapai Kota Bekasi di tahun 2009 adalah Piagam Adipura. Prestasi tersebut, merupakan catatan terbaik duet kepemimpinan Walikota Bekasi H Mochtar Mohamad dan Wakil Walikota Bekasi H Rahmat Effendi, karena berhasil membalikkan predikat sebagai Kota Metropolitan Terkotor yang disandang sejak tahun-tahun sebelumnya. Keberhasilan meraih Piagam Adipura merupakan titik awal dalam persaingan meraih Piala Adipura pada tahun 2010 mendatang. Keberhasilan yang sekaligus menjauhkan dari rasa keberpuasan diri, membuat duet pemimpin Kota Bekasi ini terus memacu kinerjanya, salah satunya dalam menggapai Piala Adipura yang diidam-idamkan, tidak hanya oleh keduanya, tapi sekaligus oleh jajaran Pemkot Bekasi dan masyarakat Kota Bekasi.
Kota Bekasi yang disebut sebagai daerah penyeimbang ibukota Jakarta, saat ini telah banyak melakukan pembenahan. Pertumbuhan masyarakat yang berkembang pesat menjadi ukuran yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam tingkat kota/kabupaten, dimana perkembangan Kota Bekasi saat ini telah mengikuti irama perkembangan DKI Jakarta.
B.       Kebudayaan Bekasi
Kebudayaan Bekasi akan punah kalau tidak dijaga. Minimal dengan mempublikasikannya dengan tulisan. Salah satu contoh ialah, pemerintah daerah Solo dan Banjarmasin yang sudah melakukannya. Tetapi, kita belum menemukan sebuah buku di Bekasi yang menggarap profil kebudayaan secara utuh. Mengharapkan ada penulis yang serius menggarap profil kebudayaan Bekasi. Nanti kemungkinan bisa dicetak oleh pemerintah daerah dan dapat dibagikan ke masyarakat secara gratis. DPRD respek dengan permasalahan kebudayaan Bekasi. Meminta dari pertemuan-pertemuan Komunitas Pangkalan Bambu, dibuatkan notulensi sehingga ada jejaknya. Selama ada keseriusan, ada pengkajian, dan mengajak anggota DPRD lainnya untuk juga membicarakan masalah kebudayaan Bekasi yang terancam punah. Dan juga adanya kesediaaan diri untuk membantu dengan memberikan komputer laptop untuk operasional. Minimal kegunaanya untuk membuat notulensi tiap kali ada pertemuan Komunitas Pangkalan Bambu.

1.        Kesenian Daerah Bekasi
Sulit menetapkan kesenian Kola Bekasi. Pasalnya, warga Kota Bekasi saat percampuran antara budaya Betawi, Jakarta dan budaya Sunda, Jawa Barat. Pasalnya, kebanyakan warga Kota Bekasi berasal dari Jakarta. Sedangkan, daerah itu sendiri masuk Jawa Barat yang masuk teritorial tanah Sunda.
Tapi, nyatanya kesenian Kota Bekasi lebih dekat dengan kesenian khas Jakarta. Pasalnya, Budaya Betawi warga Kota Bekasi masih sangat dekat dengan budaya Betawi.
 Sejak Kerajaan Pasundan, 2 Jawara Adu Kemahiran Silat, Kota Bekasi rajin menginventarisir kesenian asli daerahnya. Setelah kesenian Topeng, kini satu lagi kesenian khas Kota Patriot itu akan dipopulerkan. Yakni kesenian Ujungan.
Kesenian Ujungan yaitu kesenian dengan memukul betis dan tulang kering, dengan memanfaatkan lull aren, seorang pemain Ujungan langsung meloncat-loncat dengan bergaya lucu. Ditambah lagi dengan laga kocak pemain Ujangan ini membuat penonton terpingka-pingkal. Agar tidak terkena penonton, maka disiapkan sendiri arenanya. Sejak tumbuh di jamannya, permainan Ujungan ini sangat digemari warga Kota Bekasi. Karena, mereka sangat terhibur apabila ada pagelaran kesenian ini digelar
Meski ditenggelamkan jaman, namun permainan tradisional Kota Bekasi ini mendapatkan perhatian Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi untuk dijadikan kesenian khas Kota Bekasi. Bahkan, kesenian ini juga pernah dipertontonkan saat digelarnya pertunjukan kesenian antar daerah di Jawa Barat beberapa waktu lalu, (bersambung) sama dengan DKI Jakarta.
Ratusan tahun lalu, menurut para tokoh Bekasi yang kini masih hidup, permainan Ujungan dijadikan sebagai buhan canda. Salah satu tokoh seni Kota Bekasi, H.M Husin Ka-mali mengatakan Ujungan telah bermetamorfosa. Awalnya, Ujungan adalah permainan olahraga ketangkasan. Namun, dalam perjalanannya temyata difungsikan sebagai alat penghibur bagi masyarakat.
Kesenian selanjutnya yaitu berupa tari topeng Bekasi yang mana DKI Jakarta telah mengklaim tari Topeng Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi.
2.        Segi Bahasa
Bahasa Bekasi benar-benar khas dan tidak ada yang menyamainya. Bahkan  bahasa yang lazim digunakan kebanyakan orang di Bekasi sangatlah unik. Bila diperhatikan, orang asli atau yang sudah lama tinggal di Bekasi akan berbicara dengan bahasa Sunda, atau terkadang hanya logatnya. Dengan membawa keaslian Sunda tersebut, Bekasi yang notabene adalah kota urban, terkena imbas budaya betawi yang begitu mudah masuk dan mempengaruhi nilai-nilai sosial, termasuk bahasa.
Seringkali orang Bekasi dapat dikenali ke-sunda-annya dari logat dan nada yang digunakan. Namun diksi dan kata-kata yang dipilih lebih mengarah ke bahasa Betawi. Sehingga dapat disimpulkan bahasa Bekasi adalah mixing antara Betawi dan Sunda yang membuat bahasanya lebih menarik dan asik untuk didengarkan.
Semua itu dapat dianggap sebagai sebuah nilai sosial yang bernilai tinggi, karena Bekasi telah memadukan bahasa Sunda yang klasik dan bahasa Betawi yang ekspresif menjadi bahasa Bekasi yang asik dan menyenangkan.
3.        Segi Peralatan Hidup dan Teknologi
Kemajuan teknologi pun kini tersosialisasi dengan baik dan bahkan telah berjalan. Diantara kemajuan teknologi yang telah berjalan di Kota Bekasi adalah mengolah sampah menjadi sumber energi listrik dan mengubah sampah menjadi Bio Oil yang tentunya melibatkan tenaga-tenaga yang handal dan profesional baik lokal maupun hasil kerja sama luar negeri.
Pertumbuhan masyarakat dan perkembangannya saat ini yang diiringi dengan tersedianya beragam fasilitas, sarana dan prasarana pendukung membuat perkembangan infrastruktur di Kota Bekasi patut diperhitungkan. Percepatan tersebut dilakukan melalui perbaikan-perbaikan sarana dan prasarana jalan mencakup seluruh jaringan jalan yang ada, meski perlahan namun arahnya jelas. Selain itu, secara umum, kebersihan baik lingkungan maupun aliran air (sungai) telah menampakkan hasil yang positif. Sehingga, melihat upaya yang telah dilakukan jajaran Pemkot Bekasi melalui walikota dan wakilnya, sudah saatnya Kota Bekasi mendapat Adipura.
4.        Segi Organisasi Kemasyarakatan
Terlaksananya Program Perencanaan Partisipatif Masyarakat Desa (P3MD), tidak terlepas dari berbagai kebijakan yang melatarbelakanginya yaitu UU No. 22 tahun 1999, Propeda, Renstrada dan Repetada Kabupaten Bekasi. Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan meliputi tahap persiapan yang terdiri dari evaluasi program, penentuan lokasi sasaran dan menyusunan tujuan, sasaran dan kebijakan dalam pelaksanaan program. Tahap selanjutnya adalah tahap pelaksanaan dimana pada tahap ini lebih bersifat informatif dalam bentuk sosialisasi yang diadakan pada tingkat kabupaten, kecamatan dan desa. Kemudian ditindaklanjuti dengan mengadakan pelatihan dan pengembangan untuk fasilitator desa yang didampingi oleh tenaga pendamping lapangan (Lembaga BM2). Tahap ketiga meliputi pengembangan, pemberdayaan dan evaluasi program dengam melibatkan masyarakat dan perangkat desa dalam penyusunan perencanaan pembangunan desa dalam bentuk proposal usulan desa untuk diajukan pada tingkat kecamatan. Tahapan-tahapan dalam pelaksanaan program diarahkan pada upaya untuk menumbuhkan prakarsa, swadaya, partisipasi, kerja sama, memberdayakan kemampuan dan potensi masyarakat serta sumber-sumber yang ada dalam masyarakat melalui diskusi kelompok, wawancara, observasi, brain storming, role playing dan studi dokumentasi.
5.        Segi Ekonomi dan Mata Pencaharian
Penggusuran lahan-lahan produktif telah menyebabkan banyak hilangnya potensi ekonomi masyarakat tradisional yang selama ini hidup dari pertanian yang memiliki kemampuan bukan dari bangku sekolah, melainkan dari ilmu turun temurun, perubahan paradigma yang terjadi tentu saja membuat sock mereka yang tidak memiliki kemampuan lain selain bertani, dampak yang terjadi adalah ada beberapa generasi yang kemudian termandulkan karena orang tuanya tidak lagi memiliki lahan penghasilan, sehingga tidak mampu menyekolahkan anak-anaknya, akibat dari itu maka yang terjadi kemudian adlah tercipatanya kesenjangan sosial, karena untuk bisa bersaing dikalangan industri mereka harus memiliki persyaratan formil, sehingga akibat dari terjadinya kesenjangan sosial ini maka kemudian munculnya tingkat kriminalitas akibat kalah persaingan.amarfasyni.blogspot.com

 
BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Berangkat dari kenyataan bahwa ada dua budaya dominan yang berkembang di wilayah Bekasi ini, yakni Betawi dan Sunda.
Menggugah kalangan konstituen untuk bagaimana merumuskan permasalahan cagar budaya Bekasi yang “hilang” karena diklaim oleh daerah lain, seperti DKI Jakarta mengklaim tari Topeng Bekasi menjadi Tari Topeng Betawi. Konstituen diharapkan memikirkan masalah ini secara serius sehingga dikemudian hari tidak terjadi terjadi lagi. Misalnya, apakah bisa menerbitkan peraturan daerah tentang perlindungan kebudayaan Bekasi sehingga tidak diklaim oleh daerah lain. Kalau memungkinkan, apakah bisa dibuat hak paten. Mematenkan budaya Bekasi.
Kebudayaan Bekasi berkembang berdasar sikap masyakatnya yang terbuka, sehinga banyak pengaruh daerah lain masuk. Namun pengaruh Cirebonan cukup dominan. Persolaan lain yang perlu diantisipasi adalah adanya “ancaman” daerah lain ( Jakarta ) yang boleh jadi akan megklaim beberapa kesenian tradisi Bekasi sebagai bagian dari tradisinya. Ini sudah terjadi pada kesenian Topeng yang aslinya dari Tambun, tapi kini orang mengenalnya sebagai Topeng Betawi. Dia menyebut ada jenis empat tradisi yang mesti segera “dilindungi” agar tak direbut. Antara lain Wayang klitik, Wayang udung. Langkah awal yang harus dilakukan adalah melakukan pementasan kesenian, antara lain Ujungan. Ini untuk melibatkan para pelaku kesenian itu sendiri.

DAFTAR PUSTAKA

Koentjaraningrat. 1981. Metode-Metode Penelitian Masyarakat. Jakarta : Gramedia.
Muhammad, Abdulkadir. 2008. Ilmu Sosial Budaya Dasar.  Bandung : Citra Aditya Bakti.
http://amarfasyni.blogspot.com/2013/01/ilmu-budaya-dasar-makalah-kebudayaan.html


2 komentar: