Stilistika: Kisah-Kisah dalam al-Qur'an

Kamis, 27 Desember 2012

Kisah-kisah
Menurut Ibn Manzur, kisah berasal dari bahasa Arab qashsha, yaqushshu,  qishshatan yang berarti potongan, berita yang diikuti dan pelacakan jejak (Ibn Manzur, 1979:3650-3651)

Kisah dalam ketiga arti ini dipergunakan juga dalam surah; Ali Imran [3:62]; Al-A’raf [7:7, 176]; Yunus [12:3, 111]; al-Kahfi [18:64]; Taha [20:99]; al-Qashas [28:11, 25]; an-Naml [27:76]
Bagi Muhammad Ahmad Khalafallah, kisah adalah suatu karya kesustraan yang merupakan hasil imajinasi pembuat kisah terhadap peristiwa yang terjadi atas seorang pelaku yang sebenarnya tidak ada. Atau dari seorang pelaku yang benar-benar ada, tetapi peristiwa-peristiwa yang berkisah pada dirinya dalam kisah itu tidak terjadi benar-benar terjadi. Ataupun peristiwa-peristiwa itu terjadi atas diri pelaku, tetapi dalm kisah itu disusun atas dasar seni yang indah, sebagai peristiwa di dahulukan dan sebagaian lainya dikemudiankan, sebagaiannya disebutkan dan sebagiannya lagi dibuang. Atau terhadap peristiwa yang benar-benar terjadi itu ditambahkan peristiwa baru yang tidak terjadi atau dilebih-lebihkan penggambarannya, sehingga pelaku-pelaku sejarah keluar dari kebenaran yang biasa dan menjadi para pelaku yang imajinatif (Muhammad Ahmad Khalafallah, 1951:136)
Dalam al-Quran kisah sering digunakan sebagai media untuk menyampaikan ajaran, bahkan ada bebrapa surah secara dominan menyajikannya, seperti surah Yusuf [12], al-Kahfi [18], al-Anbiya [21] dan al-Qashas [28]. Pendeknya, kisah ini bukan merupakan karya sastra yang bebas baik dalam tema, teknik pemaparan ataupun setting peristiwa-peristiwanya, sebagaimana terdapat dalam kisah pada umumnya, melainkan sebagai suatu media al-Quran untuk mencapai tujuan yang mulia.
Tema, teknik pemaparan dan setting peristiwa, kisah dalam al-Quran senantiasa tunduk kepada tujuan keagamaan. Namun, ketundukan ini tidak menghalangi munculnya karakteristik seni dalam pemaparannya (Sayyid Qutb, 1975:11) Dengan demikian, kisah dalam al-Quran merupakan panduan antara aspek seni dengan aspek keagamaan.
Kajian kisah al-Quran melalui pendekatan stilistik yang digagas oleh Syihabuddin Qalyubi meliputi; Pertama, Teknik Pemaparan Kisah. Kedua, Penyajian Unsur-unsur Kisah. Ketiga, Pengulangan Kisah. Keempat, Seni Penggambaran Kisah.
Teknik pemaparan kisah ini dapat dipilah-pilah; Pertama, Berawal dari kesimpulan. Untuk yang dimulai kesimpulan, lalu diikuti dengan rincianyya; dari fragmen pertama hingga fragmen terakhir, seperti termuat dalam surat Yusuf [12] kisah diawali dengan mimpi dan dipilihnya Yusuf sebagai nabi.
“Dan demikianlah Tuhanmu memilih kamu (Yusuf untuk menjadi nabi), mengajarimu sebagian dari ta’bir mimpi-mimpi dan menyempurnakan nikmatnya kepadamu dan keluarga Yaqub, sebagaimana dia telah menyempurnakan nikmatnya kepada kedua orang tua kakekmu sebelum itu (yaitu) Ibrahim dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanmu maha mengetahui dan maha bijaksana. Sesungguhnya ada beberapa tanda kekuasaan Allah pada kisah Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang bertanya” (Q.S Yusuf:6-7)
Dilanjutkan dengan fragmen pertama, Yusuf dengan saudara-saudaranya (ayat 8-20); fragmen kedua, Yusuf di Mesir (ayat 21-33); fragmen ketiga, Yusuf di penjara (ayat 34-35); fragmen keempat, Yusuf mendapat kepercayaan dari raja (ayat 54-57); fragmen kelima, Yusuf bertemu dengan saudara-saudaranya (ayat 576-93); fragmen keenam, Yusuf bertemu dengan orang tuanya (ayat 94-101)
Kedua, Berawal dari ringkasan kisah. Untuk yang dimulai dari ringkasan, lalu diikuti rincianya dari awal sampai akhir. Kisah yang menggunakan pola ini antara lain Ashabul-Kahfi dalam surat al-Kahfi [18] yang dimulai dengan ringkasan secara garis besar.
“(Ingatlah) tatkala pemuda-pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa Wahai Tuhan kami berikanlah rahmat kepada kami dari engkau dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami. Maka kai tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu. Kemudian kami bangunkan mereka agar kami mengetahui manakala di anatara kedua golongan itu yang lebih tepat dalam menghitung, berapa lama mereka tinggal dalm gua itu” (Q. S al-Kahfi:10-11)
Itulah ringkasan kisahnya, lalu diceritakan perinciannya latar belakang mengapa mereka masuk gua (ayat 14-16); Keadaan mereka di dalam gua (ayat 17-18); Ketika mereka bangun dari tidur (ayat 19-20); Sikap penduduk kota setelah mengetahui mereka (ayat  21); Perselisihan penduduk kota tentang jumlah pemuda-pemuda itu (ayat 22) (Sayyid Qutb, 1975:149)
Ketiga, Berawal dari adegan klimaks. Untuk yang dimulai dari adegan klimaks, lalu dikisahkan rinciannya dari awal hingga akhir. Kisah yang menggunakan pola ini antara lain kisah Musa denga Firaun dalm surah al-Qashas [28] yang berawal dari klimaks kisah keganasan Firaun.
“Kami membacakan kepadamu sebagain kisah Musa dan Firaun dengan benar untuk orang-prang yang beriman. Sesungguhnya Firaun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang membuat kerusakan. Dan kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi” (Q.S al-Qashas:3-5)
Itulah adekan klimaknya, lalu dikisahkan secara rinci mulai Musa dilahirkan dan dibesarkan (ayat 7-13); Ketika Ia dewasa (ayat 14-19); Ia meniggalkan Mesir (ayat 20-22); Pertemuannya dengan dua anak perempuan (ayat 23-28); Ia mendapat wahyu untuk menyeru Firaun (ayat 29-32); Pengangkatan Harun sebagai pembantunya (ayat 33-37); Kesombongan dan keganasan Firaun (ayat 38-42); Musa mendapat wahyu Taurat (ayat 43)
Kisah kaum Tsamud dalam surat asy-Syams [91; 11-15] dimulai dengan pendahuluan; “Kaum Tsamud telah mendusakan (rasulnya), kerena mereka melampaui batas” Lalu diceritakan nabi Saleh yang menghimbau kaumnya agar tidak mengganggu untanya (ayat 13); Mereka berdusta dan menyembelih untanya, lalu Allah membinasakan mereka (ayat 14-15)
Dengan dipilihnya pola pertama, kedua dan ketiga ini pembaca atau pendengar dapat mengetahui terlebih dahulu gambaran secara umum tentang suatu kisah dan mendorong mereka untuk segera mngetahui rinciannya.
Keempat, Tanpa pendahuluan. Biasanya dimulai dengan pertanyaan, seperti dalam surat al-Fil [105;1-5] “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah”; Kisah Ibrahim dengan malaikat dalam suratad-Dzariyat [51;24-30] “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tamu Ibrahim (malaikat) yang dimuliakan?”; Kisah nabi Musa dalam an-Naziat [79;15-26] “Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) kisah Musa?” Namun, ada juga yang tidak dimulai pendahuluan, tetapi secara langsung dari inti materi kisah, seperti kisah Musa mencari ilmu dalam surat al-Kahfi [18;60-82] “Dan ketika Musa berkata kepada muridnya Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan; atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun. Maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah lautan itu, mereka pula akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalalnnya ke laut”
Kisah pemilik kebun dalam surat al-Qalam [68;17-33] “Sesungguhnya kami telah memberikan percobaan kepada mereka sebagaimana kami berikan kepada pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh akan memetik (hasilnya) di pagi hari”
Sekalipun pemaparan kisah-kisah ini tanpa dimulai pendahuluan. Namun, di dalamnya memuat dialog atau peristiwa yang mengandung minat pembaca atau pendengar untuk memngetahui kisah itu sampai tuntas. Pada kisah Musa ditampilkan adegan Khidir melubangi perahu (ayat 71); Khidir membunuh seorang pemuda (ayat 74); Khidir membetulkan dinding rumah (ayat 77). Pembaca tau pendengar kisah akan terus bertanya-bertanya mengapa Khidir berbuat demikian. Pertanyaan itu baru terjawab pada bagian akhir kisah.
Pada pemilik kebun pembaca atau pendengar ingin segera mengetahui apakah mereka dapat memetik hasil pertaniannya? Pertanyaan itu baru terjawab pada ayat 26 dan 27 bahwasanya mereka sama sekali tidak dapat memperolehnya.
Kelima, Adanya keterlibatan imajinasi manusia. Untuk kisah-kisah yang disusun secara garir besarnya saja, tetapi kelengkapannya diserahkan kepada imajinasi manusia. Menurut penelitian W. Montgomery Watt dalm bukunya Bell’s Introduction to the Qur’an, al-Quran disusun dalam ragam bahasa lisan (oral). Dalam memahaminya hendaklah dipergunaka (tambahan) daya imajinasi yang dapat melengkapi gerakan yang dikukiskan oleh lafal-lafalnya. Ayat yang mengandung unsur gaya bahasa ini jika dibaca dengan pertanyaan dramatic action yang tepat niscaya akan dapat membantu pemahaman. Sebenarnyalah gambaran dramatika yang berkualitas ini merupakan ciri khas gaya bahasa al-Quran (W. Montgomery Watt, 1970;60)
Misalnya kisah Ibrahim dan Ismail tatkala membangun Ka’bah yang dituturkan dalam al-Baqarah [2;127]“wa idz yarfa’u ibrahimul-qawa’ida minal baiti wa isma’ilu rabbana taqabbal minnainnaka antas-smiu’ul-’alim”. Pada kalimat “wa idz yarfa’u ibrahimul-qawa’ida minal baiti wa isma’ilu” dalam imajinasi kita tergambar suatu pentas yang terdiri dari dua tokoh Ibrahim dan Ismail dengan bakground Baitullah (Ka’bah)
Adegan dimulai dengan pemasangan batu oleh seorang tukang bernama Ibrahim; dalam pemasangan batu digunakan campuran yang bagus. Imajinasi ini tergambar dari kalimat “wa idz yarfa’u ibrahimul qawa’ida minal baiti”; Ismail berperan sebagai laden tergambar sedang mencari batu, maduk bahan campuran yang dapat merekatkan batu, lalu memberinya kepada tukang (Ibrahim). Imajinasi ini tergambar dari peng’athafan lafal Ismail ke lafal Ibrahim yang diantaranya oleh al-Qawa’ida. Lalu mereka berdoa. Antara susunan kalimat berita dengan doa tidak digunakan kata penghubung ataupun lafal yad’uwani yang dapat menghubungkan doa dengan kalimat berita sebelumnya. Hal ini memberikan gambaran adegan semacam siaran langsung, sehingga penontn dapat menyaksikan adegan-adegan itu secara hidup.
Keenam, Penyisipan nasihat keagamaan. Biasanya berupa pengesaan Allah dan keharusan percaya adanya kebangkitan manusia dari kubur. Misalnya ketika al-Quran menuturkan kisah nabi Musa dalam surat Taha [20] dari ayat 9-98. Ditengah-tengah kisah ini, yakni ayat 50-55 disisipkan tentang kekuasaan Allah, ilmu Allah, kemurahan Allah dan kebangkitan manusia dari kubur. Diakhiri ayat 98) dengan pengesaan Allah.
Demikian pula kisah nabi Yusuf [12;1-111]. Pada kisah ini disisipkan ajaran beriman kepada Allah (ayat 37); tidak mempersekutukannya, bersyukur tas nikmat yang diberikannya (ayat 38); Pahala di akhirat, Allah itu maha penyayang (ayat 64); Allah akan mengangkat derajat orang-prang yang dikehendakinya dan diakhiri dengan penjelasan bahwa al-Quran itu sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman (ayat 111). (Syihabuddin Qalyubi, 1997;67-73)
Dengan demikian, tema sentral dari ayat-ayat yang memuat kisah-kisah dalam al-Quran  adalah kisah para nabi dan umat terdahulu.
Soal unsur-unsur kisah pada umumnya ada tiga; Pertama, Tokoh (asykhash). Kedua, Peristiwa (ahdash). Ketiga, Dialog (hiwar). Ketiga unsur ini terdapat pada hampir seluruh kisah al-Quran sepertyi lazimnya kisah-kisah biasa. Hanya saja tampilan ketiga unsur itu tidak sama, terkadang dalah satu unsur tampil secara menonjol. Unsur-unsur lain hampir menghilang. Satu-satunya pengecualian adalah kisah bagi Yusuf dalam surat Yusuf [12] karena ketiga unsur itu tampil secara merata. cara seperti ini tidak didapati pada lainya, karena kisah al-Quran pada umumnya pendek (uqshushsh) bukan kisah yang panjang. (A. Hanafi, 1984:53)
Pendistribusian unsur-unsur kisah pada kisah-kisah al-Quran selaras dengan perkembangan dakwah islam. Oleh kerena itu terkadang unsur peristiwa yang menonjol jika kisah itu dimaksudkan untuk menakut-nakuti dan memberi peringatan seperti al-Qamar [54;18-32] dan asy-Syams [91;11-15]; terkadang unsur yang menonjol jika kisa dimaksudkan untuk memberi kukuatan moral dan kemantapan hati nabi Muhammad beserta pengikutnya seperti al-’Ankabut [29;29-30] dan Hud [11;120]; terkadang unsur dialog yang menonjol jika kisah itu dimaksudkan untuk mempertahankan dakwah islam dan membantah para penentangnya seperti al-’Araf [7;73-79] dan asy-Syu’ara [26;141-159] (Muhammad Ahmad Khalafallah, 1951;292)
Tokoh (asykhas) kisah dalam al-Quran sangat beragam anatra lain berupa; manusia, makhluk halus, burung dan serangga. Tokoh manusia ditampilkan dalam kisah-kisah al-Quran dengan menggunakan lafal al-ins, an-nas, al-insan, basar, bani, qaum, ashab. Tokoh laki-laki ditampilkan dengan menggunakan lafal rajul, rijal, dzakar; tokoh wanita ditampilkan dengan menggunakan lafal nisa, unsa dan imra’ah. Untuk insan bukan semata-mata aspek insaniyyahnya yang ditonjolkan, tetapi lebih ditekankan pada aspek tanggungjawab dan beban amanat kemanusiaan.
Dari enam puluh lima kali penyebutanya ada dua kali yang mengandung aspek insiyyah, yaitu pada ar-Rahman [55;14] dan al-Hijr [15;26]; kontek membaca dan belajar al-’Alaq [96;1,5]; berusaha an-Najm [53;39]; berdebat al-Kahfi [18;54]; dan memikul tanggungjawab wasiat Luqman [31;14]; al-’Ankabut [29;8] (A’isyah Abdurrahman asy-Syathi, 1984;233-234)
Ketokohan wanita hanya ada Maryam semata yang didorong untuk penolakn terhadap anggapan Isa itu anak Allah (Isabnullah). Al-Quran bermaksud membatalkan aqidah ini. Lalu lafal Allah diganti dengan Maryam, sehingga tampil isabnu Masyam (Muhammad Ahmad Khalafallah, 1951;317-318)
Makluk halus ini menjelma pada sosok jin dan malaikat. Jin berperan sebagai tentara Sulaiman dalam an-Naml [27;17,39]; sebagai arsitek dalam Saba [34;12-13] dan pendengar ayat-ayat al-Quran dalam al-Ahqaf [46;29]. Malaikat berperan sebagai pasukan cadangan dalam Ali Imran [3;124-125]; pembawa kabar gembira dalam al-Fushilat [41;30]; ahli ibadah dalam az-Zumar [39;75]; dan sebagai utusan dalam Fathir [35;1] Ihwal serangga dan burung terekam pada kisah Sulaiman dan Bilqis dalam an-Naml [17;18]
“Hingga apabila mereka (tentara Sulaiman) sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut Hai semut-semut masuklah ke dalam serang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya. Sedangkan mereka tidak menyadarinya” “Maka tidak lama kemudian (datanglah burung-burung hud-hud)lalu berkata Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Sabasuatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita (ratu Balqis) yang memerintah mereka; dia dianugrahi segala sesuatu serta mempunyai singgsana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; syaitan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan meraka lalu menghalangi mereka dari jala Allah, sehingga mereka tidak mendapat petunjuk. (Q.S an-Naml [17]; 22-24)
John Wansbrough mempertanyakan krinologi kisah nabi Syu’aib yang dimuat dalam al-A’raf [7;85-93]; Hud [11;84-95]; dan as-Syura [26;176-190] Penyebutan peristiwa dan kronologi dalm ketiha surat ini menurutnya tidak sama. Misalnya peristiwa pengusuran Syu’aib ke penduduk Madina dalam al-A’raf [7;58]; tidak disebutkan dalam as-Syura dan subsidi risalah kenabian dalam Hud [11]; tidak langsung diikuti berita gembira atau ramalan kemusnahan. Padahal dalam dua surah lainay peristiwa itu dikisahkan secara berurutan. (John Wansbrough, 1997;24-25)
Di samping itu pengurutan peristiwa dalam kisah-kisah al-Quran disesuaikan dengan tujuan kisah dan kondisi Nabi tatkala menerima wahyu. Tujuan kisah Luth dalam surah Hud adalah mengokohkan hati nabi Muhammad saw. Oleh karena itu, al-Quran menerangkan kepada beliau penderitaan dan perasaan Luth saat menghadapai kaumnya. Hal ini selaras dengan bunyi awal surat yang menggabarkan keadaan jiwa Nabi saw.
Mengenai dialog kisah-kisah dalam al-Quran sering tampil melalui ragam percakapan , hingga lafal-lafal qala, qalu, qalat, qulna, yaqulu dan yaquluna sering sekali digunakan. Dialog yang ditampilkan itu dapat berupa lintasan pikiran pada diri seseorang seperti kisah nabi Ibrahim tatkala mencari Tuhan (al-An’am [6;76-78]); percakapan antara dua orang atau lebih, seperti percakapan antara Musa dengan Fir’aun (Taha [20;57-69]); percakapan antara Yusuf dengan orang yang di penjara (Yusuf [12;36-42])
Gaya bahasa percakapan dalam kisah-kisah al-Quran sesuai dengan; Pertama, Gaya bahasa percakapan sering tidak mengikuti kejiwaan orang-orang yang melakukan dialog. Melainkan keadaan jiwa nabi Muhammad dan orang-orang yang sesamanya. Kedua, Gaya bahasa percakapan pada ayat-ayat diturunkan di Mekah didasarkan atas getaran suara lafal-lafal yang dibantu paragraf-paragraf pendekatan yang bersajak, seperti kisah-kisah dalam surat al-Qamar. Pasalnya, perasaan nabi kala itu kuat dan menggelora, sehingga perpindahan dari satu adegan ke adegan berikutnya berjalan dengan cepat. Ketiga, Pada kisah-kisah yang dimaksudkan untuk menjelaskan aqidah baru dan berusaha menghapuskan aqidah lama sering dimasukkan cemoohan-cemoohan yang sangat pahit dan ditampilkan sebagai unsur seni yang tersendiri. Ini guna meletakkan kebenaran dihadapkan orang-orang yang masih sesat agar sadar dari kesetaraannya, seperti kisah Ibrahim dalam surah Maryam [10] dan as-Syu’ar [28] (Syihabuddin Qalyubi, 1997;73-83)
Berkenaan dengan pengulangan kisah-kisah terekam pada cerita Adam, Nuh dan Musa. Paling tidak ada dua aspek yang dirangkum dalam pengulangan ini; Aspek style dan aspek kejiwaan. Tentunya akan berdampak pada seni penggambaran dan seni pemilihan lafal yang berbeda.
Bila diteliti secara mendalam pengulangan ini terjadi pada; Pertama, Pengulangan alur kisah dengan tokoh yang berbeda. Allah mengutus nabi kepad kaumnya untuk mengajak mereka mengesakan Tuhan dan beribadah kepadanya. Namu, mereka membantah dan menentang ajaran itu. lalu turunlah adzab Allah, seperti yang dimuat dalam surat al-A’raf [7;59-64,65-72 dan 73-79] tentang kisah Nuh dan shaleh. Kendati alur kisahnya sama, tetapi lafal-lafal yang digunakannya berbeda. Hingga nuansa yang ditimbulkannya pun berbeda pula. Kedua, Pengulangan kisah dengan kronologi yang berbeda. Kisah-kisah dalam al-Quran tidak disususn berdasarkan kronologi kejadian yang sebenarnya. Namun, disusun sesuai dengan tujuan kisah dan keadaan jiwa nabi bersama orang-orang yang semasanya. Tak jarang kisah itu dilang-ulang yang tampaknya dengan kronologi yang berlainan. Misalnya kisah nabi Syu’aib yang diceritakan dalam surat al-A’raf [7;85-93]; surat Hud [11;84-95]; surat asy-Syu’ara [26;176-190]; dan kisah Luth dalam surat Hud [11;77-83] dan al-HIjr [15;61-75]. Ketiga, Pengulangan kisah dengan gaya bahasa yang berbeda. Model ini terlihat dalam kisah nabi Musa yang diceritakan dalam surat Taha [20;24-98]; asy-Syu’ara [26;10-68] dan al-Qashah [28;1-47] Tampaknya kisah Musa dalam ketiga surat itu berbeda. Padahal yang berbeda itu hanyalah gaya bahasanya. (Syihabuddin Qalyubi, 1997;84-87)
Terkait dengan seni penggambaran adalah cara yang paling menonjol dalam style al-Quran. Acapkali sering mengutarakan suatu pengertian yang abstrak, suasana kejiwaan, peristiwa yang terjadi, pemandangan yang dilihat dan contoh tife manusia dengan suatu gambaran yang dapat dirasakan dan diimajinasikan, kemudian diberikan kepadanya nuansa kehidupan.
Dengan demikian, cara penggambaran ini dapat merubah pendengaran yang menjadi penonton manusia dan tempatnya menjadi panggung perunjukkan, pemandangan nampak beruut-urut dan gerak tanpak berulang. Pendengar lupa ia sedang mendengarkan kata-kata yang sedang dibacakan atau perumpamaan yang sedang diuratakan. (Sayyid Qutb, 1975;34)
Penggambaran dalam kisah-kisah ini dapat berupa warna, gerakan, peragaan, percakapan, irama, kalimat dan nada susunan. Ini semua kerjasama untuk menampakkan suatu gambaran yag dapat dinikmati bersama oleh mata, telinga, pikiran, perasaan dan imajinasi. (Syihabuddin Qalyubi, 1997;89-91)

1 komentar: