Filsafat Ilmu Pengetahuan: Filsafat

Jumat, 15 Februari 2013

Assalamu'alaikum pa kabar temen" semua??
Semoga kabar'a bae" aja y,, amin:-)
Eng ing eNg....
Kembali lagi bersama ane di udara yang agak dingin dan menyejukan ini gan.
Di kesempatan ini ane ingin berbagi kepada agan" semua, seperti motto ane "Saling Belajar, Berbagi dalam Kebersamaan" (promosi dikit,,, ckckckc). karena dengan berbagi maka kehidupan ini akan semakin indah,,, betul ga gan??? (meureun,, ckkkkkk)
langsung aja gan Cekidot;-)




BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Telah kita ketahui sebelumnya bahwa pelaku filsafat adalah akal, dan musuh (atau partner)-nya adalah hati dan rasa. Pertentangan atau kerja sama antara akal dan hati itulah pada dasarnya isi sejarah filsafat. Memang pusat kendali kehidupan manusia terletak di tiga tempat, yaitu indera, akal dan hati. Namun, akal dan hati itulah yang paling menentukan.
Pada sejarah filsafat kelihatan akal pernah menang dan juga pernah kalah; hati pernah berjaya, pernah kalah; pernah juga kedua-duanya sama-sama menang. Di antara keduanya, dalam sejarah, telah terjadi pergumulan berebut dominasi dalam mengendalikan kehidupan manusia.
Akal yang dimaksud di sini adalah akal logis yang bertempat di kepala, sedangkan hati ialah rasa yang kira-kira bertempat di dalam dada. Akal itulah yang menghasilkan pengetahuan logis yang disebut filsafat, sedangkan hati pada dasarnya menghasilkan pengetahuan supralogis yang disebut pengetahuan mistik; iman salah satunya.
Rivalitas antara kedua-duanya telah terjadi di dalam sejarah peradaban. Pada zaman Yunani Kuno, secara pukul rata akal menang; ini dihentikan oleh Socrates sehingga akal dan hati sama-sama menang.
B.       Tujuan
Tujuan dari makalah ini adalah untuk mengetahui ciri umum filsafat Yunani ialah Rasionalisme. Rasionalisme Yunani Kuno itu mencapai puncaknya pada orang-orang sofis. Untuk melihat rasionalisme sofis perlu dipahami lebih dulu latar belakangnya. Latar belakangnya itu terletak pada pemikiran filsafat yang ada sebelumnya.

 
BAB  II
PEMBAHASAN

A.      Akal dan Hati pada Zaman Yunani Kuno
1.    Anaximander
            Anaximander mencoba menjelaskan bahwa substansi pertama bersifat kekal dan ada dengan sendirinya (Mayer, 1950: 19). Anaximenes mengatakan itu udara. Udara merupakan sumber segala kehidupan, demikian alasannya. Pembicaraan ini telah memperlihatkan bahwa di dalam filsafat terdapat lebih dari satu kebenaran tentang satu persoalan. Sebabnya ialah bukti kebenaran teori dalam filsafat terletak  pada logis atau tidaknya argumen yang digunakan, bukan terletak pada kongklusi di sini sudah kelihatan bibit ralativisme yang kelak dikembangkan dalam filsafat sofisme.
2. Thales
           Thales (624-546 SM) yang berasal dari Miletus itu dijuluki Bapak Filsafat karena ialah orang yang mula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaaan yang amat mendasar, yang jarang diperhatikan orang, juga orang pada zaman sekarang: What is the nature of the world stuff? (Mayer, 1950: 18), apa sebenarnya bahan alam semesta ini? Tak pelak lagi pertanyaan ini amat mendasar. Terlepas dari apa pun jawabannya, pertanyaan ini saja telah dapat mengangkat namanya menjadi filosof pertama. Adapun jawaban ia sendiri yaitu air. Jawaban ini sebenarnya amat sederhana dan belum tuntas. Belum tuntas karena belum diketahui dari apa air itu? Thales mengambil air sebagai asal alam semesta barangkali karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang amat diperlukan dalam kehidupan dan menurut pendapatnya bumi ini terapung di atas air (Mayer, 1950: 18)
Lihatlah, jawaban yang ia berikan amat sederhana; justru pertanyaannya jauh lebih berbobot  daripada jawabannya. Masih adakah orang yang beranggapan bahwa bertanya itu tidak penting? Thales menjadi filosof karena ia bertanya, dan pertanyaannya itu ia jawab dengan menggunakan akal, bukan dengan menggunakan agama atau kepercayaan lainnya. Di sini akal mulai digunakan lepas dari keyakinan.
 
3.      Anaximander
Dikatakan oleh Russel (1979:46) bahwa the sechond philosopher of Milesian school, is much more interesting than Thales. His dates are uncertain (filosof kedua, maksudnya adalah Anaksimander dari aliran Milesian yang dianggap lebih penting dibanding dengan Thales, hari kelahirannya tidak diketahui dengan jelas). Akan tetapi, sebagian filosof mengatakan bahwa sixty four years old in 546 BC (enam puluh empat tahu sebelum kematian Thales, pada tahun 546 SM). He held that all things come from a single primal subtance, but that it is not water, as Thales held, or any other of the subtances that we know. It is infinite, eternal, and edgeless, and encompasses all the worlds. Dia menyatakan bahwa segala sesuatu berasala dari sebuah substansi prima yang tunggal; namun yang jelas bukan air seperti dinyatakan oleh Thales atau substansi apapun yang lain seperti yang selama ini kita ketahui. Substansi itu tidak terbatas, abadi, selalu hidup, dan ia meliputi seluruh dunia.
Pada bagian lain Anaximander mengatakan bahwa the primal substance is transformed into the various subtances with which we are familiar, and these are transformed into each other. Menurutnya substansi prima itu dapat berubah kedalam berbagai substansi yang dengannya kita dapat saling bersaudara, bahkan substansi itu telah berubah menjadi berbagai hal.
                        Anaximander juga  mengatakan bahwa substansi prima  yang tunggal dapat mengalahkan substansui yang lainnya. (would conquer the others). Substansi itu pada mulanya disebut arge atau permulaan. Pada bagian lain lagi, ia menyataka bahwa substansi itu bernama apeiron (Harahap, 1978: 30). Substansi prima itu tunggal, selalu bersifat tidak memihak (neutral) terhadap perselisihan yang terjadi di dunia (in this cosmic strife), selalu bergerak, tiada terbatas menurut waktu dan ruang (Russel, 1979: 46; Harahap, 1978: 30). Terhadap pemikiran Anaximander ini, Russel menyatakan bahwa ia merupakan manusia yang benar-benar ilmuwan dan rasionalis murni (the original  scientific and rasionalistic).
Anaximander merupakan murid Thales. Ia yang menyatakan bahwa asas pemula kehidupan sesuatu, yaitu yang tak terhingga atau apeiron. Apeiron adalah suatu zat yang sifat-sifatnya tidak dimilki oleh zat lain  yang selama ini dikenal oleh manusia.


4.      Pythagoras
            Pythagoras adalah seorang penemu ilmu kemasyarakatan (a society of disciples). Ia lahir menjadi seorang figur mitos (a mythical figure), ia dibanggakan masyarakatnya karena mempunyai beberapa mukjizat (miracles) dan kekuatan magis (magic power). Pythagoras lahir di Samos. Sebenarnya, pythagoras tidak menulis apapun, karena ajaran-ajarannya disampaikan secara verbal. Oleh sebab itu, secara teoritis menemukan kembali jalan pikiran Pythagoras merupakan suatu kesulitan yang sangat besar. Apalagi, ajaran-ajaran pythagoras sangat dirahasiakan oleh para muridnya karena pemerintah pada waktu itu memerintah secara sewenang-wenangsehingga ia mengasingkan diri, lalu mendirikan semacam persekutuan keagamaan di Croton, Italia Selatan. Namun belakangan para ahli menemukan ajarannya, yaitu tentang jiwa. Baginya, jiwa adalah suatu substansi yang tidak bersifat jasmani, tetapi bersifat abadi. Jiwa memperoleh hukuman dengan diasingkan masuk ke dalam raga manusia. Jiwa dapat terbebas dari raga manusia dengan cara mengadaka pemurnian atau katarsis sehingga ketika manusia meninggal dunia, jiwanya dapat ditampung di dalam kebahagiaan yang sempurna. Namun, ketika aktivis pemurnian itu kurang mencukupi, pada saat kematiannya jiwa akan menempati raga lain. Adapun pemikirannya tantang asas pemula kehidupan, para muridnya menganggap adaah bilangan, terutama bilangan satuan. Bilangan merupakan suatu keseluruhan yang teratur dalam suatu kosmos. Dengan mengetahui pppengetahuan bilangan, seseorang dapat mengetahui suatu relitas. Pengetahuan mengenai bilangan merupakan bagian tak terpisahkan dari usaha pemurnian jiwa ini, oleh sebagian ahli dianggap bersifat tasawuf (Harahap, 1978: 55).
            Tampaknya, dengan pemikirannya ini Pythagoras juga ingin menyatakan bahwa jiwa dapat mengalami reinkarnasi seperti yang diajarkan oleh agama budha. Reinkarnasi itu tidak akan terjadi kalau jiwanya belum mengalami pemurnian. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Pythagoras mengonsepkan jiwa bersifat baqa (immortal). Dengan konsepnya ini, Pythagoras lalu mencoba memantau konsep bahwa hidup ini tidak cukup hanya dengan memikir atau merenung saja, atau hidup ini tidak cukup dengan hanya berprilaku saja, tetapi hidup haruslah menyatukan antara pemikiran, perenungan, dan tindakan. Dari sini Pythagoras menyatakan bahwa dirinya merasa terdorong untuk mengabdi pada ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, menurut dugaannya, dialah orang yang pertama-tama pantas disebut sebagai filosof (harahap: 1978: 47-56)



B.       Akal dan Hati pada Zaman Yunani Klasik
1.    Heraclitus
          Paham relativisme semakin mempunyai dasar setelah Heraclitus (544-484 SM) menyatakan, “ You can not step twice into the same river; for the fresh water are ever flowing upon you”. (Engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir) (Warner, 1961: 26).
Ia berpendapat bahwa alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah; sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, yang panas berubah menjadi dingin. Itu berarti kita hendak memahami kehidupan kosmos, kita mesti menyadari bahwa kosmos itu dinamis, selalu bergerak dan berubah. Itulah sebabnya ia sampai pada kongklusi bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini bukanlah bahan (stuff)-nya seperti yang dipertanyakan oleh Thales, akan tetapi prosesnya (Warner, 1961: 28).

2.    Parmanides
Parmanides adalah salah seorang tokoh relativisme yang penting, kalau bukan yang terpenting. Ia lahir sekitar tahun 450 SM yang dikatakan sebagai logikawan pertama dalam sejarah filsafat, bahkan dapat disebut filosof pertama dalam pengertian modern. Sistemnya secara keseluruhan disandarkan pada deduksi logis, tidak seperti Heraclitus, yang menggunakan metode intuisi.
Dalam the way of the truth Parmanides bertanya: Apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas? Bagaimana hal itu dapat dipahami? Ia menjawab: ukurannya ialah logika yang konsisten.
Benar-tidaknya suatu pendapat diukur dengan logika. Di sinilah muncul sebuah masalah. Bentuk ekstrim pernyataan itu ialah bahwa ukuran kebenaran adalah akal manusia; ukuran kebenaran ialah manusia.

3.    Sofisme
           

4.    Socrates
          Ajaran Socrates bangkit ketika adanya anggapan bahwa semua kebenaran itu bersifat relatif dan telah menggoyahkan teori-teori sains yang telah mapan serta mengguncangkan keyakinan agama sehingga ini semua menyebabkan kebingungan dan kekacauan dalam kehidupan. Ia harus meyakinkan orang Athena bahwa tidak semua kebenaran itu bersifat relatif; ada kebenaran yang umum yang dapat dipegang oleh semua orang. Sebagian dari kebenaran itu memang relatif, tetapi hanya sebagian saja. Sayangnya, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Ajarannya hanya dapat diketahui dari salah satu  muridnya, yaitu Plato. Kehidupan Socrates (470-399 SM) berada di tengah-tengah keruntuhan imperium Athena. Tahun terakhir hidupnya sempat menyaksikan keruntuhan Athena oleh kehancuran orang-orang oligarki dan orang-orang demokratis.
          Pemuda-pemuda Athena pada masa itu dipimpin oleh diktrin relativisme dari kaum sofis, sedangkan Socrates adalah seorang penganut moral yang absolut dan meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filosof, yang berdasarkan idea-idea rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

5.    Plato
          Plato adalah salah seorang murid dari Socrates yang memperkuat pendapat gurunya itu. Ia berpendapat bahwa kebenaran umum itu bukan dibuat dengan cara dialog yang induktif seperti pada Socrates; pengertian umum itu sudah tersedia di “sana” di alam idea. Definisi pada Socrates dapat saja diartikan tidak memiliki realitas.
          Plato juga menjelaskan bahwa kebenaran umum itu memang ada, bukan dibuat, melainkan sudah ada di alam idea. Plato memperkuat Socrates dalam menghadapi kaum sofis.
          Plato dengan ajaran idea yang lepas dari objek, yang berada di alam idea, bukan hasil abstraksi seperti pada Socrates, jelas memperkuat posisi Socrates dalam menghadapi sofisme. Idea itu umum, berarti ia pun berlaku umum. Sama dengan gurunya itu, Plato juga berpendapat bahwa selain dari kebenaran yang umum itu ada juga kebenaran yang khusus, yaitu “kongkretisasi” idea di alam ini. Contoh, “kucing” di alam idea berlaku umum, kebenaran umum; “kucing hitam dirumah saya” adalah kucing yang khusus.

6.    Aristoteles
          Aristoteles merupakan murid, teman serta guru Plato. Ia adalah orang yang mendapat pendidikan yang baik sebelum menjadi filosof. Keluarganya adalah orang-orang yang tertarik pada ilmu kedokteran. Sifat pikir saintifik ini besar pengaruhnya pada Aristoteles. Oleh karena itu, kita menyaksikan filsafatnya itu berbeda warnanya dengan filsafat Plato: sistematis, amat dipengaruhi oleh metode empiris.
          Ia lahir pada tahun 384 SM di Stagira, sebuah kota di Thrace. Ayahnya meninggal ketika ia berusia belia. Ia pun diasuh oleh Proxenus yang telah memberikan pendidikan yang istimewa kepadanya. Tatkala Aristoteles berusia 18 tahun, ia dikirim ke Athena dan dimasukkan ke Akademia Plato. Waktu itu memang merupakan kebiasaan orang mengirimkan anaknya ke tempat yang jauh yang merupakan pusat-pusat perkembangan intelektual. Di sanalah ia belajar, tentunya pada Plato.
          Pada suatu saat ia berhasil mengarang sebuah buku tentang logika yang berjudul Organon yang berisi tentang categories. On interpretation, membahas berbagai tipe proposisi, serta masih banyak lagi buku yang lainnya. Bukunya yang penting bagi persoalan manusia yaitu On Sophistical Refutations, yang membuktikan kepalsuan logika orang sofis.
          Pada dunia filsafat, Aristoteles terkenal sebagai Bapak Logika. Logikanya disebut logika tradisional karena nantinya berkembang apa yang disebut logika modern. Logika Aristoteles itu sering juga disebut logika formal.
          Menurut Aristoteles, Tuhan berhubungan dengan dirinya sendiri. Ia tidak berhubungan dengan alam ini. Ia tidak memperhatikan doa dan keinginan manusia. Dalam mencintai Tuhan, kita tidak usah mengharap Ia mencintai kita. Ia adalah kesempurnaan tertinggi dan kita mencontoh ke sana untuk perbuatan dan pikiran-pikiran kita (Mayer: 159).
          Pada Aristoteles kita mengetahui bahwa pemikiran filsafat lebih maju, dasar-dasar sains pun diletakkan. Tuhan dicapai dengan akal, tetapi ia percaya pada Tuhan. Jasanya dalam menolong Plato dan Socrates memerangi orang sofis ialah karena bukunya yang menjelaskan palsunya logika yang digunakan oleh tokoh-tokoh sofisme.
          Sampai di sini dapat ketahui antara akal dan hati (iman). Kemenangan sementara berada pada kedua belah pihak: akal dan hati kedua-duanya menang. Kuasa akal mulai dibatasi; ada kebenaran yang umum, jadi tidak semua kebenaran relatif. Sains dapat dipegang sebagian dan ada yang diperselisihkan sebagian.


BAB  III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Apa yang pernah dikatakan sebelum ini bahwa filsafat dan agama adalah dua kekuatan yang mewarnai dunia, mulai kelihatan kebenarannya pada zaman Yunani itu. Filsafat pada dasarnya adalah akal, agama pada pokoknya adalah iman (hati, rasa). Oleh karena itu, wajarlah bila perkembangan budaya selalu dilatarbelakangi oleh pergulatan antara akal dan hati, antara rasio dan iman, antara filsafat dan agama.
Pada zaman sofis keadaan banyak berubah. Pada zaman ini, akal dapat dikatakan menang mutlak. Manusia adalah ukuran kebenaran, juga semua kebenaran relatif, yang merupakan ciri filsafat sofisme, jelas merupakan pertanda bahwa kal sudah menang mutlak terhadap iman. Lalu apa akibatnya? Kekacauan, yaitu kekacauan kebenaran. Akibat selanjutnya ialah semua teori sains diragukan, semua akidah dan kaidah agama dicurigai. Ini sudah cukup untuk dijadikan bukti bahwa manusia pada zaman itu telah hidup tanpa pegangan dan ini amat berbahaya.
Kurang lebih 300 tahun kemudian hegemoni terganggu. Sejak meninggalnya Socrates, filsafat semakin lama semakin merosot dominasinya. Tepat pada ujung zaman helenisme, yaitu pada ujung tarikh sebelum Masehi, menjelang neo-Platonisme, filsafat benar-benar kehabisan bahann bakar; ia kkalah. Selanjutnya pemikiran memasuki zaman Abad Pertengahan. Di sini agama dapat dikatakan menang mutlak dan akal kalah total.


DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad. 2010. Filsafat Umum. Bandung: Remaja Rosdakarya.
http://amarfasyni.blogspot.com/2013/02/filsafat-ilmu-pengetahuan-filsafat.html




 


0 komentar: