Al- Maqamat dalam Akhlak Tasawuf

Selasa, 19 Februari 2013




Al-Maqamat, Pengertian dan Pembagiannya
(Oleh:  Amar Fasyni)


A.    Pengertian Maqamat
Maqam arti dasarnya[1] adalah "tempat berdiri", dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun "ahwal" bentuk jamak dari 'hal'[2] biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.
Maqam adalah kedudukan spiritual. Sebuah maqam diperoleh dan dicapai melalui upaya dan ketulusan sang penempuh jalan spiritual. Namun, perolehan ini sesungguhnya terjadi berkat rahmat Allah. Suatu kedudukan adalah suatu kualitas jiwa yang “tetap”, yang berbeda dengan sifat sementara dari suatu keadaan spiritual (hal). Manakala sang penempuh jalan spiritual (salik) naik ke maqam yang lebih tinggi, dia tidak “meninggalkan” maqam yang lebih rendah, melainkan melakukan perjalanan bersamanya. Ketika tercapai kualitas-kuialitas terpuji yang  berkenaan dengan suatu kedudukan khusus, maka segenap kualitas itu semakin kukuh dan mantap serta tetap bersamanya dalam kenaikannya yang tiada henti.[3]
Maqamat dan Ahwal adalah dua kata kunci yang menjadi icon untuk dapat mengakses lebih khusus ke dalam inti dari sufisme, yang pertama berupa tahapan-tahapan yang mesti dilalui oleh calon sufi untuk mencapai tujuan tertinggi, berada sedekat-dekatnya dengan Tuhan, dan yang kedua merupakan pengalaman mental sufi ketika menjelajah maqamat. Dua kata ‘maqamat dan ahwal’ dapat diibaratkan sebagai dua sisi mata uang yang selalu berpasangan. Namun urutannya tidak selalu sama antara sufi satu dengan yang lainnya. Maqamat adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang secara terminologi berarti tingkatan, posisi, stasiun, lokasi. Secara terminologi Maqamat bermakna kedudukan spiritual atau Maqamat adalah stasiun-stasiun yang harus dilewati oleh para pejalan spiritual (salik) sebelum bisa mencapai ujung perjalanan.
Maqomat juga berarti kedudukan-kedudukan spiritual. Kedudukan-kedudukan ini adalah dasar dan asas yang mesti ada guna mengaktualisasikan kesempurnaan manusia dan harus ditempuh dalam perjalanan kembali kepada Allah. Maqomat adalah segenap perolehan (makasib) melalui usaha spiritual (mujahadah). Orang-orang sempurna telah melampaui kedudukan-kedudukan itu hingga mencapai kedudukan paling tinggi, yakni “bukan kedudukan” (la maqom)[4].
Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepada-Nya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas. Adapun pengertian maqam dalam pandangan al-Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.
Semakna dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri (w. 465 H) menyatakan bahwa  maqam  adalah keberadaan seseorang di jalan Allah yang dipenuhi olehnya kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaannya.  Jika diperhatikan beberapa pendapat sufi diatas maka secara terminologis kesemuanya sepakat memahami Maqamat bermakna kedudukan seorang pejalan spiritual di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan latihan-latihan spiritual sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai kesempurnaan[5].

B.     Pembagian Maqamat
Khusus tentang ahwal, mungkin sangat sukar membatasinya dengan sejumlah ketentuan. Dalam salah satu teks awal sufi yang diakui, yaitu kitab al-luma, Abu Nasr al-Sarraj menyebut satu demi satu sepuluh tingkatan jiwa atau ahwal:
·  Pemusatan diri (muraqabah);
·  Kehampiran (qurb);
·  Cinta (mahabbah);
·  Takut (khawf);
·  Harapan (raja’);
·  Rindu kerohanian (shawq);
·  Karib (uns);
·  Ketenangan (itmi’nan);
·  Perenungan (mushahadah); dan
·  Kepastian (yaqin)[6]
Sedangkan Ibn Qayyim al-Jauziyah (w. 750 H) berpendapat bahwa Maqamat terbagi kepada tiga tahapan. Yang pertama adalah kesadaran (yaqzah), kedua adalah tafkir (berpikir) dan yang ketiga adalah musyahadah. Sedangkan menurut al-Sarraj Maqamat terdiri dari tujuh tingkatan yaitu taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha[7]. Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha. At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – ridha – tawakal – ma’rifat. Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf” menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.
Namun dari salah satu perhitungan maqamat yang paling awal dan asli dalam Tasawuf adalah Empat Puluh Maqamat dari guru Sufi abad ke-11, yaitu Abu Sa’id bin Abi’I-Khayr, yang dikenal di Barat karena rubai-rubai yang mempesona. Menurutnya, seorang Sufi harus memiliki empat puluh pangkat (maqamat) jika penjelajahannya di jalan Tasawuf ingin diterima.[8]
Pangkat-pangkat tersebut adalah:
1.      Niat (niyyat)
Sufi harus memiliki niat semacam itu supaya apabila mendapat anugerah dunia ini serta berkat-berkat-nya dan di dunia lain beserta surganya atau bahagia dan dukacitanya, ia akan memberikan dunia ini serta bekatnya kepada orang-orang kafir, sedang dunia lain serta surganya kepada mereka yang beriman dan menyimpan bahagia dan dukacitanya untuk dirinya sendiri.
2.      Penyesalan (inabat)
Jika pada waktu penarikan rohaniny (khalwat) ia melihat Tuhan, perubahan di dunia ini tidak akan merubah rahasia batinnya dan ketentraman yang dikirim dari Langit tidak akan menyebabkan burung cintanya terbang jauh.
3.      Tobat (tawbat)
Semua orang bertaubat karena melakukan pekerjaan yang terlarang (haram) dan karena makan makanan haram supaya jangan tersiksa oleh hukuman. Para Sufi bertaubat karena melakukan pekerjaan yang halal dan karena makan makanan yang halal yang halal supaya tidak tergoda oleh apa yang terlarang dan meragukan.
4.      Kendali diri (iradat)
Semua orang mencari kesenangan dan engan itu kekayaan dan berkat duniawi. Para Sufi mencari penderitaan dan dengannya kedaulatan memerintah dan kesucian.
5.      Perjuangan batin (mujahadat)
Orang biasa berusaha melipatgandakan yang sepuluh menjadi dua puluh. Sufi mencoba merubah yang dua puluh menjadi kosong.
6.      Perenungan yang terus menerus (muraqabat)
Perhatian yang terus menerus adalah untuk menjaga jiwa seseorang di dalam penarikan rohaninya sehingga mendapat ketentuan dimana Tuhan Alam Semesta melindunginya dari perbuatan dosa.
7.      Sabar (sabr)
Jika bencana dua dunia menimpa mereka tak akan begitu mempedulikannya. Dan jika cinta penduduk bumi menyerbu mereka maka mereka tidak berhenti berjalan di jalan kesabaran.
8.      Zikir (dhikr)
Dalam hati mereka mengenal-Nya dan dengan lidah mereka menyeru-Nya. Dimanapun mereka buntu tak ada jalan untuk menyelamatkan diri yang membawa mereka menuju Hadirat Tuhan.
9.      Kepuasan (rida’)
Jika mereka dibiarkan tanpa kain (oleh Tuhan) mereka berbahagia dan jika mereka dibiarkan lapar mereka bahagia. Mereka tak pernah berada di rumah keingingan-diri (nafsu).
10.  Melawan hawa nafsu badani (mukhalafat-inafs)
Selama tujuh puluh tahun nafsu jasmani mereka menjerit pedih ingin mendapatkan karunia semata-mata dan tidak menerima apapun kecuali kepedihan dan kesukaran.
11.  Mufakat (muwafaqat)
Bencana dan kesejahteraan, karunia dan kepentingan pribadi adalah sama bagi mereka.
12.  Penyerahan (taslim)
Jika panah nasib terarah kepada mereka dari tempat yang tenteram yang tersembunyi maka mereka menempatkan dirinya di dalam ali-ali penyerahan dan membuka diri di hadapan panah nasib, menjadikan jiwa dan hati mereka sebagai perisai di hadapannya. Di muka panah nasib mereka tegak berdiri.
13.  Percaya (tawakkul)
Mereka tidak menuntut sesuatu apapun dari makhluk Tuhan atau dari Tuhan. Mereka memuja-Nya hanya demi Tuhan sendiri. Tak ada tanya dan jawab. Sebagai hasilnya Tuhan Penguasa Alam member peluang kepada mereka memerlukannya, dan tak ada perhitungan untung rugi.
14.  Penyangkalan (zuhd)
Dari semua kekayaan dunia mereka hanya memiliki jubah bertambal sulam terbuat dari robekan-robekan kain muslin, tikar sembahyang dan peci. Jubah itu seribu kali lebih karib bagi mereka dibanding kain merah yang halus dan pakaian yang serba mewah.
15.  Berbakti kepada Tuhan (ibadat)
Sepanjang hari mereka duduk membaca Al-Quran dan menyeru Nama Tuhan dan sepanjang malam mereka tetap tegak di atas kaki mereka. Tubuh mereka diusahakan supaya melayani, hati mereka berlimpah cinta kepada Yang Esa, kepala mereka bertalu-talu oleh damba akan Tuhan yang direnunginya.
16.  Rendah diri (wara’)
Mereka tidak makan makanan apapun, tak memakai kain apapun. Mereka tidak ikut berkumpul dalam pergaulan sembarangan orang dan mereka tidak memiliki persahabatan dengan siapapun kecuali Tuhan, terpujilah ia.
17.  Ketulusan (ikhlas)
Sepanjang malam mereka berdoa dan sepanjang hari mereka berpuasa. Jika nafsu badani mereka akan menjual lima puluh tahun kepatuhannya dengan minum seteguk air dan memberikan yang lima puluh tahun itu kepada seekor anjing atau siapa saja yang dapat ia beri. Kemudian mereka akan berkata, “O jiwa! Tidakkah sekarang kau sudah memahami bahwa apa yang telah kau lakukan tidak berbuah karena Tuhan?”
18.  Terpercaya (sidq)
Mereka tidak mengambil suatu langkah tanpa terpercaya dan tidak menghela nafas kecuali di dalam kebenaran.
19.  Takut (khawf)
Bila mereka menatap keadilan-Nya maka mereka melelh ketakutan, dan mereka mentaati perintah Tuhan tanpa berharap sesuatu apapun.
20.  Peniadaan diri (fana)
Mereka melebur nafsu jasmani mereka di dalam peniadaan diri dan menjadi hapus dari segala yang berada di bawah-Nya.
21.  Harapan (raja)
Bila mereka menyeru karunia-Nya mereka melakukannya penuh dengan kegembiraan, dan mereka tidak memiliki rasa takut dan kekerasan.
22.  Hidup kekal (baqa)
Jika mereka memandang ke kanan mereka lihat Tuhan dan jika mereka memandang ke kiri mereka juga melihat Tuhan. Mereka melihat-Nya di dalam keadaan apapun. Mereka hidup kekal di dalam kebaqaan-Nya.
23.  Ilmu yakin (‘ilm al-yaqin)
Bila mereka memandang dengan mata ilmu yakin maka mereka melihat dari langit yang tinggi ke bumi rendah tanpa suatu dinding apapun.
24.  Kebenaran yang diyakini (haqq al-yaqin)
Bila mereka memandang dengan mata yakin mereka melampaui semua barang buatan dan makhluk-makhluk dan melihat Tuhan tanpa bagaimana dan mengapa dan tanpa tirai apapun.
25.  Pengenalan (ma’rifat)
Dalam semua makhluk dari dua dunia dan dalam diri semua orang mereka melihat Tuhan, dan tak ada keluhan yang timbul karena penglihatannya.
26.  Ikhtiar (jahd)
Mereka memuja Tuhan dalam hati mereka dan dalam jiwa mereka, dan tak ada keraguan dalam ketaatan menjalankan perintah-Nya.
27.  Kesucian (wilayat)
Dunia ini dan yang akan datang tidak sepantasnya dirangkul dengan kehendak batin mereka (himmit), dan semua surge dan kemurahannya tidak berharga bagaikan sebutir zarrah di mata mereka.
28.  Cinta (mahabbat)
Di seluruh dunia mereka hanya mempunyai satu sahabat. Cinta mereka adalah satu, karena baik secara lahir maupun batin mereka adalah bersama dengan Yang Satu.
29.  Ekstase (wajd)
Mereka tidak dijumpai berada di dunia, atau di kuburan atau di Hari Kebangkitan atau di jalan lurus (sirat). Mereka berada di Hadirat Yang Paling Syahdu. Dimana mereka berada di situ hanya Tuhan dan mereka.
30.  Kehampiran (qurb)
Jika mereka berkata , “O, Tuhan! Berilah ampun karena kami semua orang kafir serta mereka yang ingkar dan semua orang yang menyembah banyak tuhan dan mereka yang menentang-Nya,” maka Tuhan Semesta Alam tak akan menolak permohonan mereka.
31.  Tepekur (tafakkur)
Teman akrab mereka adalah nama-Nya. Kedamaian mereka berada di dalam pesan-Nya.
32.  Persatuan (wisal)
Meskipun pribadi mereka berada di dunia, hati mereka bersama Tuhan.
33.  Tersingkapnya tirai (kashf)
Tak ada tirai pemisah antara Tuhan dan hati mereka. Jika mereka menjenguk ke bawah mereka ingin melihat sejauh Gaw-mahi (makhluk yang akan mengangkat bumi). Dan jika mereka memandang ke atas mereka ingin melihat arsy dan kaki-Nya, Pena dan Lauhul Mahfudz.
34.  Pelayanan (khidmat)
Mereka tak henti-hentinya memberi pelayanan sekejap matapun. Tidak pula absen sedikitpun dari kehadiran Sahabatnya.
35.  Bersih diri (tajrid)
Mereka tidak pernah berpaling dari persahabatan-Nya dan mereka tidak memiliki segala hal yang ada di dunia ini.
36.  Kesendirian (tafrid)
Di dunia ini mereka asing si antara makhluk-makhluk. Jika mereka dipukul mereka tak akan meninggalkan jalan dan jika mereka tak diindahkan mereka tidak akan menjadi tolol.
37.  Perluasan (inbisat)
Mereka berani mati di depan Tuhan. Mereka tidak takut kepada Nakir dan Munkar dan mereka tidak memikirkan kebangkitan.
38.  Ketentuan tentang Yang Benar (tahqiq)
Mereka semua di dalam keadaan takjub dengan jerit dan ratap. Mereka menjauh dari makhluk-makhluk dan tergantung oleh rantai gapura-Nya.
39.  Tujuan yang luhur (nihayat)
Mereka telah mencapai rumah penginapan di tepi jalan dan telah putus dalam gurun ketentraman. Dengan mata hati mereka telah melihat Tuhan.
40.  Tasauf (tasawuf)
Sufi adalah ia yang telah bersih dari semua keinginan. Kehidupan batinnya bersih dari kemalangan. Kata-katanya bebas dari kelalaian, kealpaan dan fitnah. Pikirannya bersinar-sinar dan matanya mengelak dari dunia. Ia telah mendapat petunjuk dari Yang Benar.
Jika kembali kepada sejarah, sebenarnya konsep tentang Maqamat dan ahwal telah ada pada masa-masa awal Islam. Tokoh pertama yang berbicara tentang konsep ini adalah Ali Ibn Abi Thalib. Ketika ia ditanya tentang iman ia menjawab bahwa iman dibangun atas empat hal: kesabaran, keyakinan, keadilan dan perjuangan.


DAFTAR PUSTAKA

Jumantoro, Totok dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, Wonosobo: Amzah, 2005.

Kartanegara, Mulyadhi, Menyelami Lubuk Tasawuf, Jakarta: Erlangga, 2006.

Amstrong, Amatullah, Kunci Memasuki Dunia asawuf, Bandung: Mizan, 1996.

http://amarfasyni.blogspot.com/2013/02/al-maqamat-dalam-akhlak-tasawuf.html

Bagir, Haidar, Buku Saku Tasawuf, Bandung: Mizan, 2006.

Sayyid Husein, Nasr, Tasauf Dulu dan sekarang, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1991.

Bahri, Media Zainul, Menembus Tirai Kesendirian-Nya: Mengurai Maqamat dan Ahwal Dalam Tradisi Sufi, Jakarta: Prenada Media, 2005.



[1] Totok Jumantoro dan Samsul Munir Amin, Kamus Ilmu Tasawuf, (Wonosobo: Amzah), 2005
[2] Mulyadhi Kartanegara, Menyelami Lubuk Tasawuf, (Jakarta: Erlangga), 2006
[3] Amatullah Amstrong, Kunci Memasuki Dunia asawuf, (Bandung: Mizan), hal 175
[4] Ibid.
[5] Haidar Bagir, Buku Saku Tasawuf, (Bandung: Mizan), 2006, hal. 131
[6] Sayyid Husein Nasr, Tasauf Dulu dan sekarang, (Jakarta: Pustaka Firdaus), hal 87
[7] Media Zainul Bahri, Menembus Tirai KesendirianNya: Mengurai Maqamat dan Ahwal Dalam Tradisi Sufi, (Jakarta: Prenada Media), 2005, hal. 44.
[8] Sayyid Husein Nasr.,Op.Cit, hal 90

0 komentar: